Para peneliti di Universitas California di San Diegobekerja sama dengan University of Amsterdam, telah mengembangkan bahan yang lembut namun tangguh yang mulai berpendar ketika mengalami tekanan mekanis seperti kompresi, peregangan, atau puntiran. Pendaran cahaya ini didasarkan pada alga jenis dinoflagellata yang berpendar.
Terinspirasi oleh pendaran air pasang merah di pantai San Diego, para peneliti mencampurkan dinoflagellata dan polimer alginat dan menggunakan printer 3D untuk membentuknya menjadi berbagai bentuk seperti kisi-kisi, spiral, atau bola. Ketika bahan tersebut dikompresi, diregangkan atau dipelintir, dinoflagellata bereaksi dengan memancarkan cahaya. Hal ini sesuai dengan mekanisme pertahanan mereka terhadap predator di alam.
Semakin kuat gaya, semakin terang cahayanya. Para peneliti dapat mengukur hal ini dan memprediksinya dalam sebuah model. Untuk membuat bahan lebih tahan banting, polimer kedua yang disebut poli (etilen glikol) diakrilat ditambahkan. Dengan lapisan polimer Ecoflex yang mirip karet, bahan-bahan tersebut juga dibuat tahan terhadap asam dan basa dan dapat disimpan dalam air laut selama berbulan-bulan.
Dinoflagellata membutuhkan cahaya dan kegelapan siklik. Pada fase terang mereka melakukan fotosintesis, dalam gelap mereka melepaskan cahaya ketika ada kekuatan. Hal ini konsisten dengan perilaku pasang surut air laut.
Menurut para peneliti, penelitian ini menunjukkan metode sederhana untuk menggabungkan organisme hidup dan komponen benda mati untuk menciptakan bahan pintar. Aplikasi yang dapat dibayangkan termasuk sensor tekanan atau regangan atau dalam teknologi medis. Namun, perbaikan masih diperlukan sebelum aplikasi semacam itu dapat dilakukan.












