
Para peneliti di Universitas Ritsumeikan di Jepang telah mengembangkan biosensor bertenaga sendiri untuk memantau polusi air tawar dengan zat organik. Menurut sebuah publikasi di Biochemical Engineering Journal, biosensor apung cetak 3D berbiaya rendah ini didasarkan pada sel bahan bakar mikroba.
Biosensor ini menggunakan bakteri elektrogenik yang menghasilkan listrik selama metabolisme. Jumlah listrik tergantung pada konsentrasi polusi organik yang dimetabolisme oleh bakteri. Korelasi ini digunakan untuk mengukur kualitas air.
Elektroda sensor terbuat dari bahan karbon yang tidak mahal. Menurut peneliti utama Kozo Taguchi, bakteri itu sendiri menghasilkan listrik yang diperlukan, sehingga tidak diperlukan sumber energi eksternal. Sebuah LED mengindikasikan ketika nilai ambang batas kebutuhan oksigen kimiawi terlampaui sebagai ukuran polusi.
Menurut para peneliti, biosensor terapung yang dicetak dengan cetakan 3D dapat digunakan dengan biaya yang efektif untuk sistem peringatan dini di sungai dan danau untuk mendeteksi puncak polusi yang disebabkan oleh air limbah organik pada tahap awal. Oleh karena itu, hal ini berkontribusi pada perlindungan ekosistem akuatik.
Para ilmuwan melihat potensi besar untuk penggunaan praktis biosensor untuk memantau kualitas air. Produksi berbiaya rendah dengan menggunakan pencetakan 3D merupakan keuntungan penting dari konsep ini.












